546 Kejadian Bencana dalam 1,5 Tahun, Ina Ammania Dorong Penguatan Mitigasi di Bondowoso
Mumbai
Ahmedabad
BONDOWOSO, MataVisi.id – Ancaman bencana masih menjadi tantangan serius bagi Kabupaten Bondowoso. Dalam kurun waktu satu setengah tahun, tercatat 546 kejadian bencana, terdiri atas 351 kejadian sepanjang 2025 dan 195 kejadian selama semester pertama 2026.
Kondisi tersebut mendorong pentingnya penguatan mitigasi dan kesiapan masyarakat agar risiko serta dampak bencana dapat diminimalkan.
Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan, Ina Ammania, menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana melalui kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di Kabupaten Bondowoso, Kamis (15/10/2026).
Dalam kegiatan bertema *Kesiapan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana* itu, Ina mengingatkan bahwa upaya menghadapi bencana tidak cukup dilakukan ketika keadaan darurat sudah terjadi. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan persiapan sejak dini, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan akses informasi yang mudah dipahami, jalur evakuasi yang aman, sistem peringatan dini, serta dukungan pemerintah yang berkesinambungan.
Ia menilai, kesiapan menghadapi bencana harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, kemudian diperkuat melalui kerja sama masyarakat dan pemerintah desa.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami ancaman di wilayah masing-masing. Warga harus mengetahui potensi bencana di lingkungannya, seperti banjir, cuaca ekstrem, maupun kekeringan. Perubahan kondisi lingkungan dan tanda-tanda bahaya juga perlu diperhatikan agar masyarakat dapat mengambil tindakan lebih cepat.
Selanjutnya, setiap keluarga perlu memiliki rencana menghadapi keadaan darurat. Penentuan jalur evakuasi, tempat berlindung, dan titik kumpul menjadi bagian penting dari persiapan tersebut. Kebutuhan dasar seperti makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, senter, alat komunikasi, dan dokumen penting juga perlu dipersiapkan.
Ina turut mengingatkan agar kelompok rentan mendapat perhatian khusus dalam setiap rencana penyelamatan. Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta ibu hamil harus memperoleh pendampingan dan bantuan yang memadai ketika proses evakuasi dilakukan.
“Lebih baik bersiap sebelum bencana daripada menyesal setelah semuanya terjadi,” tegas Ina dalam sambutannya.
Selain kesiapan keluarga, ia mendorong penguatan partisipasi masyarakat di tingkat desa. Menurutnya, mitigasi bencana tidak dapat dibebankan hanya kepada BPBD maupun pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah desa bersama warga diharapkan aktif memperkuat Desa Tangguh Bencana, membentuk kelompok siaga, serta menyelenggarakan latihan evakuasi secara berkala. Penyampaian informasi peringatan dini juga perlu dipastikan menjangkau masyarakat hingga tingkat keluarga.
Ina berharap pemerintah daerah dan BPBD terus memberikan pendampingan kepada masyarakat, mulai dari upaya pencegahan dan persiapan, hingga pemulihan serta pembangunan kembali kehidupan warga setelah bencana.
Ia menegaskan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas dalam setiap upaya penanggulangan bencana. Karena itu, titik-titik rawan perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut, sementara kesiapsiagaan harus terus dibangun secara bersama-sama.
Melalui penguatan pengetahuan, persiapan keluarga, dan gotong royong di tingkat desa, masyarakat Bondowoso diharapkan semakin tangguh menghadapi ancaman bencana serta mampu mengurangi risiko yang dapat membahayakan keselamatan jiwa. (Wan).