ZoyaPatel

SPPG Sukowono Pujer Perkuat Pengelolaan Limbah, Produksi 2.505 Porsi Sehari

Mumbai

BONDOWOSO,MataVisi.id – Pengelolaan limbah dapur menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kebersihan dan keamanan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan kapasitas produksi mencapai 2.505 porsi makanan per hari, SPPG Sukowono, Kecamatan Pujer, menerapkan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengelola sisa aktivitas dapur.

Asisten Lapangan SPPG Sukowono, Kecamatan Pujer, Muhammad Sulton Fathoni, menjelaskan bahwa pengolahan limbah dilakukan melalui sejumlah tahapan. Sistem tersebut dirancang untuk memisahkan sisa makanan, minyak, dan lemak sebelum air limbah menjalani proses pengolahan lebih lanjut.

Rangkaian IPAL yang digunakan meliputi saringan kasar, *grease trap* atau perangkap lemak, bak kontrol atau ekualisasi, biofilter anaerob-aerob, bak sedimentasi atau filtrasi, serta bak outlet atau resapan.

Aliran limbah menggunakan sistem gravitasi melalui pipa tertutup dan kedap air sehingga tidak bercampur dengan aliran air hujan.

Proses pengolahan diawali dengan penyaringan kasar untuk menahan sisa nasi, tulang, plastik, dan material lain yang terbawa dari aktivitas dapur. Air limbah kemudian dialirkan ke *grease trap* untuk memisahkan minyak dan lemak yang berpotensi menyebabkan penyumbatan saluran.

Setelah itu, limbah masuk ke bak ekualisasi untuk menyeragamkan debit aliran sebelum menjalani proses biologis. Pada tahap biofilter anaerob, bakteri bekerja tanpa oksigen untuk membantu menguraikan bahan pencemar. Proses berikutnya berlangsung di biofilter aerob dengan bantuan udara yang disalurkan melalui diffuser.

Air kemudian melewati tahap sedimentasi dan filtrasi akhir untuk mengendapkan padatan halus sekaligus membantu menjernihkan air sebelum dialirkan menuju outlet.

Untuk menjaga kinerja sistem tetap optimal, pemeliharaan IPAL dilakukan secara berkala. Petugas memeriksa aliran air dan membersihkan saringan awal setiap hari, sedangkan perangkap lemak mendapat perhatian khusus karena menjadi bagian yang rentan mengalami penumpukan sisa minyak dari kegiatan memasak.

“Pembersihan *grease trap* dilakukan dua sampai tiga kali sehari. Indikatornya ketika lapisan lemak sudah tebal, aliran mulai melambat, dan muncul bau menyengat,” jelas Muhammad Sulton Fathoni.

Selain itu, pemeriksaan pompa, blower, dan diffuser dilakukan setiap pekan. Pengecekan juga mencakup saringan atau *screen*, bak ekualisasi, media biofilter, bak sedimentasi, meter air, hingga pipa outlet.

Saringan kasar dibersihkan setiap selesai produksi. Sementara itu, media biofilter menjalani pembersihan atau *backwash* satu kali dalam sebulan. Penggantian media dapat dilakukan dalam rentang enam hingga 12 bulan apabila ditemukan tanda penurunan fungsi, seperti biofilm mati, munculnya *dead zone*, atau penurunan pH yang berlangsung terus-menerus.

Dalam pelaksanaannya, Asisten Lapangan bertanggung jawab terhadap pemeriksaan dan perawatan IPAL guna memastikan seluruh komponen tetap berfungsi dengan baik.

Meski demikian, pengelolaan limbah masih menghadapi sejumlah tantangan. Penumpukan minyak dan lemak dapat membuat perangkap lebih cepat penuh. Selain itu, sampah yang lolos dari penyaringan awal berpotensi mengganggu kinerja pompa.

Untuk mengantisipasi kendala tersebut, langkah penanganan dilakukan melalui pengurasan lebih sering, pemasangan *double screen* pada wastafel, serta pemeriksaan sistem kelistrikan dan pelampung otomatis pompa.

Adapun pemantauan hasil pengolahan untuk sementara dilakukan secara visual dengan memperhatikan kejernihan air. Pengujian terhadap parameter kualitas air hasil pengolahan masih akan dijadwalkan sebagai bagian dari evaluasi sistem IPAL.

Menurut Muhammad Sulton Fathoni, pengelolaan limbah tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kebersihan lingkungan SPPG. IPAL yang terawat diharapkan mampu mengurangi risiko penyumbatan saluran, bau tidak sedap, munculnya lalat dan tikus, serta potensi kontaminasi silang ke area produksi makanan.

Upaya menjaga sanitasi juga diterapkan di area dapur. Pembersihan dilakukan tiga kali sehari, yakni sebelum, selama, dan setelah produksi. Pencucian ompreng menggunakan air mengalir, desinfektan *food grade*, serta mesin pengering.

SPPG Sukowono, Kecamatan Pujer, turut menjalankan pengelolaan sampah, fogging, dan pengendalian hama (*pest control*) secara rutin. Pemeriksaan sumber air bersih juga menjadi bagian dari rangkaian pengawasan sanitasi.

Sulton menegaskan bahwa pemeliharaan sarana sanitasi merupakan bagian penting dalam mendukung keamanan makanan yang diproduksi untuk para penerima manfaat sekaligus menjaga lingkungan masyarakat di sekitar fasilitas.

Ke depan, SPPG Sukowono, Kecamatan Pujer, berkomitmen melengkapi sarana IPAL sesuai standar Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Pemeliharaan juga akan diperkuat melalui kalibrasi rutin dan pencatatan kondisi IPAL secara digital setiap hari.

Melalui pengawasan dan perawatan yang berkelanjutan, pengelolaan limbah diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga kebersihan lingkungan, kelancaran produksi, dan keamanan pangan bagi penerima manfaat tetap terjaga.(Wan). 
Ahmedabad